Rupiah Tembus Rp17.703, IHSG Ambles ke Level Terendah Setahun
Nilai Tukar Rupiah melemah hingga Rp17.703 per Dolar AS dan IHSG turun 1,85 persen ke level terendah setahun di tengah tekanan pasar global.
Globalindopos.com, Jakarta - Nilai tukar Rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.703 per Dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi. Pelemahan kurs tersebut diikuti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun tajam ke level 6.599,24.
Data perdagangan menunjukkan Rupiah bergerak di zona merah sejak awal sesi dan menjadi salah satu sentimen utama yang menekan pasar saham nasional. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas sektor keuangan di tengah meningkatnya tekanan global.
IHSG tercatat turun 124,08 poin atau 1,85 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.723,32. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak di area tertinggi 6.631,28 sebelum akhirnya terseret aksi jual besar-besaran hingga menyentuh level terendah harian 6.398,79.
Penurunan tersebut sekaligus membawa IHSG ke titik terendah dalam 52 minggu terakhir.
DPR RI Kritik Keras Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Pelemahan Rupiah juga menjadi sorotan dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, Muhidin M Said, menilai konflik global membuat tekanan terhadap Rupiah semakin sulit dikendalikan.
Ia menyinggung konflik Iran dan Amerika Serikat yang dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.
"Kita, kecenderungan kalau saya melihat bahwa ini tidak ada satu kesimpulan yang bisa menyatakan bahwa perang di Iran dengan Amerika ini akan berakhir secepat itu. Kira-kira langkah-langkah apa terutama menyangkut masalah nilai tukar yang saat ini tadi pagi dibuka kurang lebih Rp17.590 sekarang sudah Rp17.600 sekian. Ini sangat sulit menurut saya," kata Muhidin saat raker dengan Gubernur BI.
Kritik lain datang dari anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP, Harris Turino. Ia mempertanyakan pernyataan Bank Indonesia yang menyebut kondisi Rupiah masih relatif stabil dibanding negara lain.
Menurut Harris, pelemahan kurs sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi industri.
Yang kedua tentang kurs, Pak. Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah Rp 17.600, bahkan muncul lelucon kalau Rp 17.845 maka Indonesia merdeka katanya, 17-8-45. Nah tetapi di presentasi Bapak, Bapak mengatakan bahwa rupiah stabil, relatif stabil kalau dibandingkan dengan negara yang lain," ujar Harris.
"Nah persoalan yang dirasakan oleh masyarakat adalah harga impor ini naik Pak, kemudian biaya industri juga naik, tekanan pangan dan energi juga meningkat, dan persepsi ekonomi ini melemah," lanjut dia.
Pernyataan tersebut menggambarkan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak pelemahan Rupiah terhadap aktivitas ekonomi domestik, terutama sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Baca Juga: Rupiah Hancur, Sentilan Komisi XI DPR Desak Gubernur BI Mundur
ISHG Ambrol Purbaya "Serok-Serok"
Di tengah tekanan pasar, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta investor tidak panik menghadapi gejolak jangka pendek.
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding krisis 1997-1998 karena pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di jalur positif.
“Ini banyak sentimen, kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 97-98 lagi. Beda 97-98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia juga menilai pelemahan pasar saham lebih dipengaruhi faktor sentimen ketimbang masalah fundamental ekonomi nasional.
“Sekarang pondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek,” ujarnya.
Purbaya bahkan memperkirakan pasar saham berpotensi kembali rebound dalam satu hingga dua hari ke depan seiring meredanya tekanan teknikal di pasar.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan otoritas moneter terus memantau stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar Rupiah di tengah tingginya volatilitas global.
Tekanan terhadap Rupiah dan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dalam beberapa waktu ke depan. Pemerintah dan otoritas keuangan menegaskan koordinasi akan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan investor.
Rupiah dan IHSG Tertekan Sentimen Global
Gejolak pasar kali ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang terjadi hampir bersamaan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama keluarnya dana asing dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Investor global cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti Dolar AS. Kondisi tersebut membuat mata uang Amerika Serikat terus menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk Rupiah.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memperbesar tekanan terhadap perekonomian domestik. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi membutuhkan lebih banyak cadangan devisa untuk memenuhi kebutuhan minyak.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga mulai memudar. Situasi itu membuat arus modal asing semakin selektif terhadap negara berkembang.
Tekanan tambahan datang dari sentimen rebalancing indeks MSCI yang menyebabkan sejumlah emiten Indonesia keluar dari daftar indeks global. Kondisi tersebut memicu aksi jual teknikal oleh investor institusi asing.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.600, Harga Oli dan Onderdil Motor Mulai Melonjak
0 Komentar