Globalindopos.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga menembus level Rp17.600 per US$1. Kondisi ini mulai berdampak pada harga kebutuhan otomotif, terutama oli dan onderdil kendaraan bermotor yang banyak bergantung pada bahan baku impor.

Kenaikan harga mulai dirasakan di sejumlah sektor otomotif karena sebagian besar bahan dasar pelumas dan komponen kendaraan masih menggunakan material impor dengan transaksi dolar AS. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi hingga distribusi ikut meningkat.

Harga Oli dan Sparepart Motor Ikut Terdorong

Kenaikan nilai tukar dolar AS memicu lonjakan biaya pengadaan oli dasar atau base oil serta zat aditif yang digunakan dalam industri pelumas. Sebagian besar bahan tersebut masih didatangkan dari luar negeri menggunakan mata uang dolar AS.

Akibatnya, produsen dan distributor harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Kondisi itu kemudian berpengaruh pada harga jual oli di pasaran, termasuk di bengkel dan toko suku cadang kendaraan.

Kenaikan harga mulai terlihat pada sejumlah produk pelumas kendaraan di pasaran. Dalam beberapa waktu terakhir, harga oli tercatat mengalami kenaikan rata-rata sekitar 10 hingga 15 persen atau sekitar Rp4.000 sampai Rp10.000 per botol.

Selain oli, harga sparepart atau onderdil motor juga mulai mengalami penyesuaian. Komponen seperti kampas rem, filter udara, aki, hingga beberapa suku cadang mesin diketahui masih memiliki ketergantungan impor yang cukup besar.

Kenaikan ongkos logistik juga memperbesar tekanan harga. Melemahnya rupiah sering diikuti dengan kenaikan harga minyak mentah global yang berdampak pada biaya distribusi barang dari pabrik menuju distributor hingga bengkel.

Baca Juga: Rupiah Jeblok ke Rp17.602, Prabowo: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar

Kisaran Harga Oli dan Onderdil Kendaraan Bermotor

Kenaikan harga mulai terlihat pada sejumlah produk pelumas kendaraan di pasaran. Dalam beberapa waktu terakhir, harga oli tercatat mengalami kenaikan rata-rata sekitar 10 hingga 15 persen atau sekitar Rp4.000 hingga Rp10.000 per botol.

Lonjakan harga dipicu pelemahan nilai tukar rupiah serta fluktuasi harga base oil di pasar global yang ikut terdampak ketegangan geopolitik.

Untuk oli motor matic, harga saat ini berada di kisaran Rp59.000 hingga Rp71.000 per botol ukuran 0,8 liter, termasuk beberapa merek yang umum digunakan pengendara harian.

Sementara oli mobil ukuran 1 liter dijual mulai Rp50.000 hingga Rp160.000 tergantung jenis pelumas, tingkat kekentalan, serta spesifikasi mesin bensin atau diesel.

Kenaikan lebih tinggi terjadi pada pelumas kendaraan niaga dan truk. Produk di kategori tersebut dilaporkan mengalami lonjakan harga hingga 35 persen seiring meningkatnya biaya industri dan distribusi.

Pernyataan Prabowo soal Rupiah Tuai Sorotan

Di tengah pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan nilai tukar rupiah akan kembali menguat.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

“Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan mendapat tanggapan satire dari sejumlah artis hingga selebgram.

Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai tetap memiliki dampak tidak langsung terhadap masyarakat desa maupun daerah. Sebab, kebutuhan sehari-hari yang berkaitan dengan distribusi barang impor, transportasi, hingga biaya kendaraan tetap dipengaruhi nilai tukar dolar AS.

Pengguna motor di daerah, misalnya, tetap membeli oli, ban, aki, hingga onderdil yang harganya ikut bergerak mengikuti biaya impor dan distribusi.

Baca Juga: Indonesia Ekspor Urea ke Australia Rp7 T, Mentan Bidik Pasar India

Selain sektor otomotif, pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi harga barang elektronik, bahan baku industri, hingga kebutuhan usaha kecil yang bergantung pada produk impor.

Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Dirasakan Masyarakat

Kondisi rupiah yang melemah membuat pelaku usaha otomotif mulai melakukan penyesuaian harga secara bertahap. Beberapa bengkel dan toko suku cadang memilih menunggu stok lama habis sebelum menaikkan harga jual.

Namun apabila nilai tukar terus berada di level tinggi, kenaikan harga dinilai sulit dihindari karena biaya operasional ikut meningkat.

Masyarakat diimbau mulai memperhatikan jadwal servis kendaraan dan penggunaan suku cadang secara efisien agar biaya perawatan kendaraan tidak semakin membengkak di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.