Globalindopos.com, Jakarta - Pertamina Patra Niaga kembali menambah penyaluran LPG subsidi 3 kilogram secara nasional sebanyak 5,8 juta tabung selama masa periode libur panjang pada bulan Mei 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga ketersediaan pasokan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama masa liburan.

Penambahan pasokan tersebut disalurkan secara bertahap di berbagai wilayah indonesia dengan mempertimbangkan tren konsumsi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah. Pertamina menyebut langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga distribusi LPG subsidi tetap berjalan lancar dan tepat sasaran.

5,8 Juta Tabung Disalurkan Bertahap

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, mengatakan tambahan fakultatif LPG 3 kg diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi rumah tangga selama libur panjang.

“Pertamina Patra Niaga menambah penyaluran LPG 3 kg secara nasional sebanyak 5,8 juta tabung selama periode libur panjang ini. Langkah ini kami lakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan distribusi LPG subsidi berjalan lancar di seluruh wilayah,” kata Roberth dikutip Sabtu (16/5/2026).

Kenaikan konsumsi LPG biasanya terjadi saat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah, termasuk memasak selama libur panjang. Kondisi ini juga kerap meningkatkan permintaan dari sektor usaha mikro seperti pedagang makanan dan pelaku UMKM rumahan.

Baca Juga: Bahlil: Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Ini Fokus Utama Pemerintah

Pasokan LPG 3 Kg Jadi Perhatian

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan mengalihkan sebagian pasokan LPG yang biasa digunakan sektor industri untuk memenuhi kebutuhan LPG 3 kg.

Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, mengatakan pemerintah tengah mengupayakan tambahan pasokan baik dari impor maupun produksi dalam negeri.

“LPG yang selama ini dijual ke industri juga diupayakan untuk dialihkan untuk kebutuhan LPG 3 kg, yang dimana kebutuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Rizwi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI.

Menurut dia, Ditjen Migas juga telah meminta kilang LPG swasta memprioritaskan penawaran produksi kepada Pertamina Patra Niaga dibanding sektor industri.

“Kami memberikan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga, yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Langkah tersebut dilakukan karena kebutuhan LPG nasional terus meningkat sepanjang awal 2026. Pemerintah mencatat konsumsi LPG harian nasional naik dari sekitar 25 ribu metrik ton per hari pada 2025 menjadi sekitar 26 ribu metrik ton per hari hingga Februari 2026.

Di saat bersamaan, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG juga mengalami peningkatan. Jika pada 2025 impor LPG mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan nasional, maka pada awal 2026 angkanya naik menjadi 83,97 persen.

Kondisi tersebut membuat penguatan pasokan domestik menjadi perhatian pemerintah dan Pertamina, terutama untuk menjaga stabilitas distribusi LPG subsidi di tingkat masyarakat.

Pertamina Imbau Pembelian LPG Sesuai Kebutuhan

Disisi lain, Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat membeli LPG 3 kg sesuai kebutuhan dan peruntukannya agar distribusi subsidi energi tetap merata.

Roberth menegaskan LPG 3 kg merupakan produk subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, pelaku usaha mikro, nelayan sasaran, dan petani sasaran.

“Kami mengajak masyarakat mampu untuk menggunakan LPG non subsidi Bright Gas agar subsidi energi lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Selain menambah pasokan, Pertamina juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, agen, dan pangkalan LPG guna memastikan distribusi tambahan berjalan optimal selama masa libur panjang.

Upaya pengamanan pasokan ini dinilai penting mengingat LPG 3 kg masih menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Gangguan distribusi dalam waktu singkat dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Baca Juga: Inflasi Indonesia 2026: BBM Picu Biaya Hidup Mei Makin Berat