Rupiah Hancur, Sentilan Komisi XI DPR Desak Gubernur BI Mundur
DPR RI mengkritik Bank Indonesia di tengah pelemahan Rupiah dan tekanan IHSG. Perry Warjiyo hingga klaim stabilitas Rupiah ikut disorot.
Globalindopos.com, Jakarta – Pasar keuangan Indonesia kian membara setelah dihantam gelombang tekanan hebat. Nilai tukar Rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.703 per Dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi, disusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjun bebas ke level 6.599,24 pada perdangan senin 18/05/2026.
IHSG tercatat turun tajam 124,08 poin atau 1,85 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.723,32. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak di area tertinggi 6.631,28 sebelum akhirnya terseret aksi jual besar-besaran hingga menyentuh level terendah harian 6.398,79. Penurunan tersebut sekaligus membawa IHSG ke titik terendah dalam 52 minggu terakhir (setahun).
Rapat Kerja Komisi XI DPR, Primus Desak Gubernur BI Mundur
Dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia (BI) di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026), jajaran otoritas Bank Indonesia ramai-ramai dicecar oleh anggota DPR RI yang mulai kehilangan kesabaran.
Kritik paling menohok datang dari Anggota DPR RI Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Primus Yustisio. Secara blak-blakan, Primus meminta Gubernur BI Perry Warjiyo untuk menunjukkan sikap kesatria dan mempertimbangkan mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi ekonomi yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
"Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia sebagai tokoh utamanya harus gentleman, Pak. Harus berani melawan. Ada apa ini? Kenapa ini? Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang, Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan, Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri," ujar Primus tegas, dikutip dari jalannya rapat.
Primus menyoroti adanya anomali besar pada ekonomi nasional. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi diklaim kokoh di angka 5,61 persen, namun nilai tukar Rupiah justru hancur ke rekor terendah. Ia juga mengecam performa bursa saham domestik yang amblas dan belum mampu pulih dibandingkan bursa global.
"Indeks kita juga habislah. Merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, mereka sudah rebound, bahkan sudah surplus. Dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," cecar Primus.
Baca Juga: Juara di G20 Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Piring Makan Rakyat Sudah Aman?
Sentilan Klaim "Stabil" dan Lelucon Kurs Rp17.845
Bukan hanya Primus, anggota DPR RI lainnya juga mempertanyakan narasi BI yang menganggap Rupiah masih dalam kondisi relatif stabil. Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP, Harris Turino, menyentil paparan BI dengan membeberkan lelucon getir yang kini mulai beredar luas di tengah masyarakat akibat depresiasi mata uang Garuda yang begitu cepat.
"Kita tahu bahwa tadi teman-teman mengatakan kursnya sudah Rp17.600, bahkan muncul lelucon kalau Rp17.845 maka Indonesia merdeka katanya, 17-8-45. Nah, tetapi di presentasi Bapak, Bapak mengatakan bahwa Rupiah stabil," sentil Harris.
Harris mengingatkan realita di lapangan bahwa pelemahan ini telah nyata menaikkan harga barang impor, membengkakan biaya industri, serta meningkatkan tekanan pada sektor pangan dan energi yang membuat persepsi ekonomi melemah.
"Nah persoalan yang dirasakan oleh masyarakat adalah harga impor ini naik Pak, kemudian biaya industri juga naik, tekanan pangan dan energi juga meningkat, dan persepsi ekonomi ini melemah," lanjut dia.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Dakiri mendesak BI memperjelas indikator yang digunakan. Menurutnya, stabilitas keuangan versi BI tidak sejalan dengan apa yang dirasakan di lapangan, mulai dari mahalnya kebutuhan pokok hingga tersendatnya ekonomi riil.
"Jadi kalau ini kan indahnya berarti indikator itu tercapai di atas target. Nah cuman kita memang kalau melihat di masyarakat kan sederhana Pak, masyarakat melihat rupiahnya tertekan, terus kemudian harga kebutuhan terasa mahal, kemudian ekonomi riil juga jalannya agak tersendat, sentimen ekonominya juga agak melemah kan yang dirasain di lapangan seperti itu," ujar Hanif.
Lebih jauh, Hanif juga menyoroti Bank Indonesia yang menganggap rupiah stabil. Padahal, dia kembali menyatakan realita di lapangan tidak demikian.
"Yang kedua, di dalam laporannya BI juga menyebut soal tercapainya stabilitas nilai tukar rupiah. Lagi-lagi seperti disampaikan juga oleh teman-teman bahwa publik melihat pelemahan yang apa cukup tajam rupiah terhadap dolar. Nah kita ingin minta penjelasan Pak sebenarnya definisi stabil menurut BI itu apa. Definisi stabil itu apa? Karena kalau di persepsi publik kan memang rupiahnya justru dianggap melemah secara signifikan," tutur dia.
Sementara itu, Anggota Fraksi Golkar Muhidin M Said menilai eskalasi konflik global antara Iran dan Amerika Serikat (AS) ikut mempersulit keadaan. Di sisi lain, Amin AK (Fraksi PKS) turut mempertanyakan efektivitas 7 langkah strategis BI karena kurs Rupiah masih dinilai belum sesuai harapan masyarakat.
Purbaya Minta Investor Tidak Panik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta investor tidak panik menghadapi gejolak jangka pendek ini. Menurut Purbaya, fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat bagus dan berbeda jauh dari situasi krisis tahun 1997-1998.
"Ini banyak sentimen, kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 97 - 98 lagi. Beda 97 - 98 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 97 pertengahan itu kita sudah resesi. Kita kan sekarang belum resesi ekonomi masih tumbuh kencang jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," kata Purbaya.
"Jadi teman-teman gak usah khawatir investor pasar saham kalau saya bilang ga usah takut serok bawah (beli saham di harga bawah) sekarang," tambahnya.
Purbaya menilai pelemahan pasar saham lebih dipengaruhi faktor sentimen global sesaat ketimbang masalah fundamental ekonomi nasional. Ia bahkan memperkirakan pasar saham berpotensi kembali rebound dalam satu hingga dua hari ke depan seiring meredanya tekanan teknikal di pasar.
Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan otoritas BI bersama pemerintah akan terus mengintensifkan koordinasi untuk memantau stabilitas pasar keuangan serta menjaga kepercayaan investor di tengah tingginya volatilitas global.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.703, IHSG Ambles ke Level Terendah Setahun
0 Komentar