Globalindopos.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menuntaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga selesai. Pernyataan ini muncul di tengah keraguan sejumlah pihak terhadap keberlanjutan program tersebut. Prabowo memastikan, tidak akan ada program yang berhenti di tengah jalan atau mangkrak.

Dalam keterangannya saat agenda groundbreaking proyek hilirisasi strategis, Kamis (30/4/2026), ia menegaskan bahwa program MBG sudah berjalan dan akan terus diperbaiki seiring waktu. Program ini, menurutnya, bukan sekadar janji, tetapi sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak mundur dari target besar MBG bahkan di tengah berbagai tantangan implementasi.

MBG Tidak Akan Mangkrak

Prabowo menyebut bahwa program MBG telah menghasilkan capaian signifikan dengan menjangkau puluhan juta masyarakat. Ia mengakui masih ada kekurangan, namun menegaskan bahwa perbaikan terus dilakukan.

“Saudara-saudara kita sudah menghasilkan MBG puluhan juta dan kita akan teruskan sampai selesai. Banyak kekurangan kita selesaikan. Banyak yang takut ini berhasil,” ujarnya, dikutip dari Informasi Youtube/Sekretariat Presiden saat acara tersebut.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat kritik bukan sebagai hambatan, melainkan bagian dari proses penyempurnaan program.

Lebih dari 60 Juta Penerima

Salah satu poin paling mencolok dari program MBG adalah skalanya. Prabowo mengungkapkan bahwa lebih dari 60 juta orang telah menjadi penerima manfaat, dengan distribusi makanan dilakukan hingga lima kali dalam sepekan.

Kelompok yang disasar pun bukan sembarangan. Program ini menyentuh langsung kelompok rentan seperti ibu hamil dan lansia yang membutuhkan perhatian ekstra.

"Di mana ada negara bisa memberi makan lebih dari 60 juta orang, lima kali seminggu, yang ibu-ibu hamil diantar makan, orang-orang tua, lansia yang tidak berdaya diantar makan. Kasih lihat di mana, negara mana," tutur Prabowo.

Artinya, MBG bukan hanya program sosial biasa. Skala dan frekuensinya membuat program ini masuk kategori intervensi besar dalam sistem ketahanan pangan nasional.

Indonesia Mulai Mengejar

Prabowo juga sempat membandingkan program ini dengan negara lain. Ia mengakui bahwa negara besar seperti China mungkin sudah lebih dulu menjalankan program serupa.

Namun, kondisi ini justru menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengejar ketertinggalan dengan langkah cepat. Bahkan, menurutnya, saat ini sudah ada negara lain yang mulai tertarik mempelajari implementasi MBG di Indonesia.

Ini memberi gambaran bahwa MBG berpotensi menjadi model kebijakan sosial yang diperhatikan secara global bukan hanya program domestik semata.

Rantai Distribusi Mulai Berubah

Selain aspek sosial, dampak lain yang mulai terasa adalah di sektor pertanian. Prabowo menyoroti bagaimana program MBG membantu petani mendapatkan kepastian pasar.

Sebelumnya, banyak petani menghadapi risiko hasil panen tidak terserap. Situasi ini sering dimanfaatkan tengkulak untuk menekan harga.

"Kita sudah merasakan manfaatnya. Petani-petani yang tadinya hasil panennya tidak terbeli. Begitu dia panen mangga, mangganya tidak diambil, puso, rusak di kebun. Panennya tidak diserap. Tengkulak datang banting harga," papar Prabowo.

Kini, dengan adanya skema penyerapan melalui program MBG, hasil panen memiliki jalur distribusi yang lebih jelas.

Kondisi ini menunjukkan perubahan penting: dari sistem yang tidak pasti menuju sistem yang lebih terstruktur.

Baca juga: Satgas PHK Disebut Mau Diumumkan Prabowo di May Day 2026, Apa Isinya?

Optimisme dan Tantangan Nyata

Di balik optimisme tersebut, tetap ada catatan penting. Skala besar program tentu membutuhkan manajemen distribusi, anggaran, dan pengawasan yang tidak sederhana.

Namun, sikap pemerintah yang tetap melanjutkan program sambil memperbaiki kekurangan menunjukkan pendekatan bertahap yang realistis.

Ini menunjukkan satu hal:
program besar tidak harus langsung sempurna, tapi harus terus berjalan dan disempurnakan.

MBG Ujian Besar Kebijakan

Program Makan Bergizi Gratis kini menjadi salah satu kebijakan paling ambisius di Indonesia. Dengan jangkauan lebih dari 60 juta orang dan dampak langsung ke sektor pertanian, program ini berada di titik krusial.

Komitmen Prabowo Subianto untuk memastikan program ini tidak mangkrak menjadi kunci utama kepercayaan publik.

Jika berhasil, MBG bukan hanya soal makanan gratis tetapi bisa menjadi fondasi baru dalam sistem kesejahteraan dan ketahanan pangan nasional.