Globalindopos.com, Solo – Pertemuan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono atau Mas Dar dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo mendadak menjadi perhatian publik.

Bukan hanya karena membahas capaian swasembada pangan nasional, tetapi juga karena muncul pertanyaan dari warganet yaitu: mengapa seorang pejabat aktif di pemerintahan Presiden Prabowo justru “melapor” ke Jokowi?

Ramai di Media Sosial

Di media sosial, potongan pernyataan Sudaryono soal dirinya melaporkan keberhasilan swasembada pangan 2025 kepada Jokowi langsung memantik diskusi. Sebagian netizen mempertanyakan posisi dan konteks pertemuan tersebut. Namun di sisi lain, ada pula yang menilai langkah itu sebagai bentuk penghormatan politik sekaligus kesinambungan program pemerintahan.

Sudaryono diketahui bersilaturahmi ke kediaman Jokowi di Solo, Jumat malam (8/5/2026). Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan perkembangan sektor pertanian nasional, termasuk klaim keberhasilan pemerintah mencapai swasembada pangan pada 2025.

“Saya pernah dilantik sebagai Wakil Menteri di era Presiden Jokowi, waktu itu dengan tugas dan target yang jelas, bagaimana mencapai swasembada pangan secepat-cepatnya. Dan dalam kesempatan silaturahmi ini saya juga melaporkan ke Pak Jokowi bahwa swasembada telah kita raih di tahun 2025 dan akan kita teruskan,” kata Sudaryono dikutip Minggu (10/5/2026).

Pernyataan itu kemudian menjadi viral. Banyak publik menyoroti penggunaan kata “melaporkan” kepada mantan presiden. Padahal secara formal, pemerintahan saat ini berada di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Namun hasil pengamatan menunjukkan, konteks yang dibangun Sudaryono lebih mengarah pada kesinambungan target pembangunan pangan yang memang dimulai sejak era Jokowi. Artinya, laporan tersebut bukan dalam konteks struktural pemerintahan, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral atas target yang pernah diberikan kepadanya saat dilantik menjadi Wamentan.

Pernyataan Soal Petani Happy

Selain membahas swasembada pangan, Sudaryono juga memaparkan sejumlah capaian lain. Pemerintah disebut berhasil menghentikan impor beras dan menaikkan harga gabah menjadi Rp6.500 per kilogram demi meningkatkan kesejahteraan petani.

“Alhamdulillah, sebagaimana juga Pak Jokowi ketahui sekarang ini kita tidak lagi impor beras, kemudian harga gabah juga kita naikkan menjadi Rp6.500 dan petani happy,” ujar Sudaryono.

Pernyataan “petani happy” juga ramai dikomentari publik. Sebagian netizen menilai istilah tersebut terlalu sederhana untuk menggambarkan kondisi petani yang kompleks. Terlebih, di sejumlah daerah masih ada persoalan distribusi pupuk, biaya produksi, hingga ketergantungan cuaca.

Meski demikian, pemerintah mengklaim situasi petani saat ini lebih baik dibanding sebelumnya. Ketersediaan pupuk disebut lebih terjamin dengan diskon hingga 20 persen, sementara dukungan irigasi dan pembelian hasil panen dinilai mampu meningkatkan semangat produksi petani nasional.

Baca juga: Prabowo Sebut RI Swasembada, Harga Pagan dan Nelayan Masih Tertekan

Respons Jokowi soal Kondisi Petani

Dalam pertemuan itu, Jokowi disebut turut mengapresiasi perkembangan sektor pertanian nasional. Berdasarkan pengamatannya, kondisi petani dianggap lebih baik karena adanya dukungan pemerintah dari sisi pupuk, pengairan, hingga harga pembelian hasil panen.

“Pak Presiden Jokowi juga mengapresiasi dan menyampaikan bahwa pengamatan beliau itu memang petani saat ini dalam kondisi yang baik, bahagia, karena hasil panennya didukung pemerintah, pupuknya cukup, pengairannya ada, dan harga panen raya juga dibeli dengan harga yang baik,” tutur Sudaryono.

Selain melaporkan capaian sektor pangan, Sudaryono juga mengaku meminta arahan dan masukan dari Jokowi terkait pelaksanaan tugasnya di Kementerian Pertanian.

Ia menilai pengalaman Jokowi selama memimpin Indonesia selama dua periode masih relevan sebagai bekal menjalankan program pembangunan, terutama di sektor pangan dan pertanian.

“Saya merasa bangga dan bahagia pada hari ini bisa bersilaturahmi dengan Pak Jokowi dan bisa bertatap muka. Kami mendoakan semoga Pak Presiden Jokowi senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran segala urusannya,” katanya.

[Internal Link: Harga Gabah Rp6.500 dan Dampaknya ke Petani]

Ini Bukan Sekadar Silaturahmi Politik

Di tengah dinamika politik nasional kondisi ini bisa menunjukkan bahwa sektor pangan kini menjadi salah satu program strategis yang ingin dijaga kesinambungannya lintas pemerintahan. Sudaryono tampak ingin menegaskan bahwa target swasembada pangan bukan program jangka pendek satu rezim, melainkan agenda nasional yang terus berlanjut.

Di sisi lain, publik Indonesia memang sensitif terhadap simbol politik. Penggunaan kata “lapor” kepada Jokowi memunculkan persepsi bahwa pengaruh mantan presiden masih sangat kuat di pemerintahan saat ini. Apalagi Sudaryono merupakan kader Gerindra yang kini berada di lingkaran pemerintahan Prabowo.

Yang menarik justru ada pada narasi keberhasilan swasembada pangan. Jika klaim ini benar-benar berkelanjutan dan bukan hanya capaian sementara, maka Indonesia sedang memasuki fase penting dalam sejarah ketahanan pangannya. Tetapi tantangan berikutnya jauh lebih besar: menjaga stabilitas harga, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan produksi di tengah ancaman iklim global.

Baca Juga: Sepekan Harga Pangan Bergejolak, Beras Mulai Turun Saat Cabai Meledak

Reaksi Warganet Masih Terbelah

Di media sosial, reaksi publik terhadap pertemuan ini masih terbelah. Ada yang menilai langkah Sudaryono sebagai bentuk etika politik dan penghormatan kepada mantan presiden. Namun ada pula yang menganggap komunikasi seperti itu berpotensi menimbulkan tafsir politik baru di tengah pemerintahan Prabowo yang baru berjalan.

Meski demikian, Sudaryono menegaskan bahwa kunjungan tersebut lebih bersifat silaturahmi dan meminta nasihat. Ia juga menekankan bahwa capaian yang disampaikan merupakan kelanjutan mandat yang diberikan sejak dirinya dilantik pada era Jokowi.