Prabowo Sebut RI Swasembada, Harga Pagan dan Nelayan Masih Tertekan
Prabowo klaim Indonesia sudah swasembada pangan dan tak perlu impor. Namun harga cabai hingga minyak goreng masih mengalami kenaikan.
Globalindopos.com, Gorontalo - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia kini berada di jalur yang benar menuju bangsa yang mandiri dan berdaulat. Pernyataan itu disampaikan saat Presiden meresmikan dan meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Gorontalo, Sabtu (9/5/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Indonesia tidak lagi bergantung pada impor pangan dari luar negeri. Pemerintah, kata dia, berhasil mencapai swasembada pada sejumlah komoditas strategis seperti beras dan jagung.
“Kita sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada beras, swasembada jagung. Kita sekarang tidak perlu impor lagi pangan dari luar,” ujar Prabowo di hadapan masyarakat dan nelayan yang hadir dalam acara tersebut.
Lebih lanjut, Prabowo mengaku baru saja menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Filipina dan menyebut posisi Indonesia mendapat penghormatan dari negara-negara kawasan karena dinilai berhasil memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kondisi Harga Pangan Per Mei 2026
Namun di saat pemerintah menggaungkan keberhasilan swasembada, kondisi harga pangan di pasar domestik justru masih menunjukkan tekanan. Hasil pengamatan pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 9 Mei 2026 memperlihatkan sejumlah komoditas dapur mengalami kenaikan cukup signifikan.
Harga cabai merah misalnya, naik hingga 6,07 persen menjadi Rp52.400 per kilogram. Cabai merah keriting juga melonjak 6,91 persen ke angka Rp50.300 per kilogram. Sementara bawang merah naik menjadi Rp46.800 per kilogram dan bawang putih menyentuh Rp39.150 per kilogram.
Di sisi lain, beberapa jenis beras memang mengalami penurunan tipis. Beras medium II turun menjadi Rp15.950 per kilogram, sedangkan beras super I turun ke Rp17.350 per kilogram. Penurunan juga terjadi pada telur ayam ras yang turun menjadi Rp31.150 per kilogram.
Kondisi ini menunjukkan bahwa swasembada pangan secara produksi belum otomatis membuat harga pangan sepenuhnya stabil di tingkat konsumen. Faktor distribusi, cuaca, hingga biaya logistik masih menjadi tantangan besar di lapangan.
Baca juga : Sepekan Harga Pangan Bergejolak, Beras Mulai Turun Saat Cabai Meledak
Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Andalan Baru
Prabowo juga menyoroti pentingnya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih sebagai bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional berbasis sektor kelautan.
Ia melihat fasilitas yang sudah dibangun di kawasan tersebut mulai dari gudang pendingin hingga pabrik es sebagai bentuk kehadiran negara dalam membantu nelayan meningkatkan kualitas hasil tangkapan.
“Ini memang niat kita untuk memberdayakan semua nelayan di Indonesia. Kita ingin semua nelayan kehidupannya tambah baik, penghasilannya harus tambah,” kata Prabowo.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Ikan disebut menjadi sumber protein penting yang kini semakin dibutuhkan dunia internasional.
Karena itu, pemerintahan yang dipimpinnya akan fokus mengembangkan sektor kelautan dan perikanan melalui konsep blue ocean economy. Program ini diarahkan untuk meningkatkan investasi dan produktivitas sektor maritim secara besar-besaran.
Baca Juga: Diplomasi Maung Garuda: Strategi Prabowo Gebrak KTT ASEAN di Filipina
Optimisme Pemerintah Dibalik Kondisi Nelayan
Di balik optimisme pemerintah soal swasembada pangan, realitas yang dihadapi nelayan dan masyarakat bawah masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.
Saat ini nelayan di sejumlah wilayah pantura justru tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga solar nonsubsidi yang mencapai Rp28.000 hingga Rp30.000 per liter. Kondisi itu membuat banyak kapal memilih tidak melaut karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Belum lagi faktor cuaca ekstrem. BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 4 meter di perairan selatan Indonesia sampai 13 Mei 2026. Situasi tersebut membuat aktivitas melaut semakin berisiko.
Artinya, ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan produksi nasional atau penghentian impor. Ada rantai panjang yang menentukan apakah pangan benar-benar kuat dari hulu ke hilir. Nelayan, petani, distribusi logistik, hingga stabilitas harga pasar menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Kampung Nelayan Merah Putih bisa menjadi langkah awal yang penting. Namun efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh pemerataan pembangunan, akses BBM yang terjangkau, perlindungan saat cuaca buruk, hingga kepastian pasar hasil tangkapan.
Jika persoalan dasar itu mampu dijawab, maka konsep swasembada yang digaungkan pemerintah tidak hanya berhenti sebagai simbol keberhasilan politik, tetapi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Tantangan Besar di Tengah Ambisi Maritim
Pemerintah kini mulai menggeser fokus pembangunan pangan tidak hanya dari sektor pertanian darat, tetapi juga sektor laut. Langkah ini cukup strategis mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Namun tantangannya juga tidak kecil. Infrastruktur pendingin, distribusi ikan, akses permodalan nelayan, hingga stabilitas harga BBM masih menjadi hambatan klasik yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Jika pembangunan KNMP dilakukan secara masif dan merata, program tersebut berpotensi menjadi solusi jangka panjang bagi nelayan Indonesia. Bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat rantai pasok protein nasional yang selama ini belum optimal.
Baca Juga: Intip Progres Kampung Nelayan Merah Putih 2026, Nelayan Bisa Untung?
0 Komentar