Kasus illegal logging Gunung Ciremai yang terungkap di wilayah Kuningan menjadi peringatan serius bagi Kabupaten Majalengka. Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang juga membentang luas di Majalengka berpotensi menjadi target baru pembalak liar, seiring diperketatnya pengamanan di sisi timur gunung.

Tertangkapnya pelaku pembalakan liar di Blok Panjakroma, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, pekan lalu membuka kembali ancaman laten terhadap kelestarian hutan Gunung Ciremai. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 16 gelondongan kayu Sonokeling berukuran besar, salah satu jenis kayu bernilai tinggi yang kerap menjadi incaran mafia hutan.

Data Balai Taman Nasional Gunung Ciremai mencatat, sepanjang 2025 sedikitnya lima pohon Sonokeling telah ditebang secara ilegal. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik illegal logging Gunung Ciremai masih berlangsung meski berbagai upaya penegakan hukum telah dilakukan.

Baca Juga: Hujan Berhari-hari, Jakarta Dikepung Banjir dan Lumpuhkan Sejumlah

Humas Balai TNGC, Ady Sularso, mengatakan bahwa aparat gabungan dari TNGC, TNI, dan Polri kini meningkatkan intensitas patroli di kawasan rawan. “Patroli kami tingkatkan secara masif untuk menutup celah pergerakan pelaku,” ujar Ady, Senin (12/1/2026).

Majalengka Jadi Wilayah Rawan Baru

Penguatan pengamanan di wilayah Kuningan dinilai berpotensi mendorong pelaku pembalakan liar mencari jalur alternatif. Kabupaten Majalengka, yang memiliki bentang hutan cukup luas dan akses menuju kawasan taman nasional, disebut rawan menjadi sasaran berikutnya.

Sejumlah pengamat lingkungan menilai, pola pergeseran lokasi merupakan strategi klasik para pelaku illegal logging. Ketika satu wilayah diperketat, mereka cenderung berpindah ke area yang pengawasannya lebih longgar. Kondisi ini menuntut koordinasi yang solid antarwilayah agar tidak terjadi “efek balon”, di mana tekanan di satu titik justru memunculkan masalah di titik lain.

Ancaman Serius bagi Lingkungan dan Warga

Dampak illegal logging Gunung Ciremai tidak hanya sebatas hilangnya kayu bernilai tinggi. Penggundulan hutan di kawasan konservasi membawa risiko besar bagi keseimbangan lingkungan dan keselamatan warga di kaki gunung.

Pertama, terganggunya debit air. Hutan Gunung Ciremai merupakan sumber air utama bagi ribuan warga Majalengka dan sekitarnya. Penebangan pohon secara ilegal dapat mengganggu fungsi resapan air dan memicu krisis air bersih pada musim kemarau.

Kedua, meningkatnya risiko longsor. Lereng Gunung Ciremai yang curam sangat bergantung pada tutupan vegetasi. Hilangnya pohon besar seperti Sonokeling membuat tanah lebih rentan terhadap erosi dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

Ketiga, kerusakan ekosistem. Sonokeling merupakan bagian dari vegetasi asli taman nasional. Hilangnya pohon-pohon ini berdampak pada keseimbangan flora dan fauna yang bergantung pada habitat tersebut.

Peran Masyarakat Desa Penyangga

Balai TNGC menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah praktik illegal logging. Warga desa penyangga diminta aktif melaporkan aktivitas mencurigakan, terutama kendaraan berat seperti truk yang masuk ke jalur hutan pada malam hari.

“Kondisi malam yang gelap sering dimanfaatkan pelaku untuk bergerak. Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa mata dan telinga dari warga setempat,” kata Ady.

Pendekatan partisipatif ini dinilai krusial, mengingat luasnya kawasan hutan yang harus diawasi dengan keterbatasan personel.

Penegakan Hukum dan Pengembangan Kasus

Saat ini, satu pelaku berinisial N beserta satu unit truk telah diamankan oleh aparat kepolisian. Penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan atau jalur distribusi kayu ilegal yang melintasi wilayah lain.

Aparat menegaskan bahwa penindakan tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga akan menyasar aktor intelektual di balik praktik pembalakan liar tersebut.

Berita Rekomendasi: RDMP Balikpapan Diresmikan Oleh Presiden Prabowo

Kasus illegal logging Gunung Ciremai menegaskan bahwa kejahatan lingkungan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Penguatan patroli perlu diimbangi dengan penegakan hukum yang tegas dan konsisten, termasuk memutus rantai distribusi kayu ilegal.

Tanpa langkah menyeluruh, pembalakan liar berpotensi terus berulang dengan pola berpindah lokasi. Kolaborasi aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci menjaga kelestarian Gunung Ciremai sebagai penyangga kehidupan dan sumber daya alam bagi generasi mendatang.