Kabar soal harga BBM subsidi kembali jadi perhatian publik. Di tengah fluktuasi energi global, pemerintah justru memastikan tidak ada kenaikan hingga akhir 2026. Pernyataan ini langsung memicu rasa penasaran: bagaimana kondisi stok dan anggaran negara?

Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini disampaikan di Jakarta, Jumat, sebagai tindak lanjut setelah kunjungan Presiden ke Rusia dan Prancis.

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tak Naik hingga Akhir 2026

Menurut laporan Antara, pemerintah memastikan ketersediaan energi nasional dalam kondisi aman. Bahlil menyebut stok BBM, baik solar, bensin, maupun LPG, berada di atas batas minimum.

Ia menegaskan kepada publik bahwa kondisi ini menjadi dasar kuat untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil. “Insya-Allah stok kita di atas standar minimum,” ujar Bahlil, dikutip dari pernyataannya.

Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 disebut sudah menjadi kesepakatan berdasarkan arahan Presiden.

Baca Juga: Belum Naik, Tapi Udah Bikin Panas, Bahlil Kasih Sinyal BBM RON 92–98

Faktor Harga Minyak Dunia Masih Terkendali

Selain pasokan, faktor fiskal juga menjadi pertimbangan penting. Pemerintah menilai kondisi anggaran masih cukup kuat untuk menahan harga BBM subsidi.

Berdasarkan keterangan Bahlil, harga Indonesian Crude Price (ICP) saat ini masih berada di bawah asumsi anggaran. Ia menyebut rata-rata harga ICP sejak Januari tidak lebih dari 77 dolar AS.

“Kalau sampai dengan 100 dolar AS itu sudah aman BBM,” kata Bahlil, dilansir dari Antara. Kondisi ini dinilai memberi ruang fiskal bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga tanpa menambah beban masyarakat.

Konsumsi Tinggi, Impor Masih Dibutuhkan

Di sisi lain, pemerintah mengakui kebutuhan impor energi masih cukup besar. Konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Sementara itu, produksi dalam negeri hanya berada di kisaran 600-610 ribu barel per hari. Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, meskipun tidak mengubah keputusan terkait harga BBM subsidi dalam waktu dekat.

Peluang Kerja Sama Energi dengan Rusia

Dalam upaya memperkuat ketahanan energi, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan Rusia. Pembahasan tidak hanya mencakup pasokan minyak mentah, tetapi juga investasi di sektor infrastruktur energi.

Bahlil mengungkapkan adanya rencana investasi di bidang kilang dan penyimpanan energi. Namun, proses finalisasi masih membutuhkan beberapa tahap pembahasan lanjutan.

Menurutnya, beberapa investasi sudah menunjukkan kesiapan untuk masuk, tetapi masih menunggu penyelesaian teknis lebih lanjut.

Harapan Stabilitas untuk Masyarakat

Kebijakan ini disebut sebagai kabar baik, terutama bagi masyarakat yang rentan terhadap kenaikan harga energi. Dengan harga BBM subsidi yang tetap, aktivitas ekonomi diharapkan bisa berjalan lebih stabil.

Bahlil menambahkan, pemerintah berharap kondisi energi nasional tetap terjaga sepanjang tahun. Stabilitas harga BBM dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika global.

Baca Juga: Bahlil Ungkap Hasil Evaluasi IUP, Siap Eksekusi Perintah Prabowo

Dengan stok yang dinilai aman dan harga minyak dunia yang masih terkendali, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026. Namun, perkembangan global tetap menjadi faktor yang akan terus dipantau ke depan.