Dedi Mulyadi Ungkap Rencana Flyover Bekasi Usai Kecelakaan Kereta
Dedi Mulyadi dorong percepatan flyover Bekasi usai kecelakaan kereta. Soroti lintasan padat, ormas, dan instruksi langsung Presiden.
Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur kembali memunculkan sorotan serius terhadap keselamatan perlintasan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Rabu (29/4/2026), mendatangi rumah duka salah satu korban, Nur Ainia Eka Rahmadhyna atau Ain. Dalam kunjungan itu, ia tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menegaskan rencana percepatan pembangunan flyover Bekasi sebagai solusi jangka panjang.
Peristiwa ini terjadi di kawasan yang dikenal padat aktivitas. Lalu lintas kereta dan kendaraan darat saling beririsan dalam frekuensi tinggi. Kondisi tersebut, seperti diakui pemerintah daerah, memang sudah lama menjadi perhatian.
Flyover Solusi di Kawasan Padat
Dedi Mulyadi menyebut, wilayah tempat kecelakaan memang memiliki tingkat kepadatan tinggi. Rencana pembangunan flyover sebenarnya sudah masuk dalam perencanaan Jawa Barat, namun realisasinya dilakukan bertahap karena keterbatasan anggaran.
“Memang daerah itu kan daerah padat. Dan di rencana pembangunan Jawa Barat, memang sudah teralokasikan untuk pembangunan flyover. Walau pun memang kita bertahap ya, karena kemampuan fiskal kita sangat terbatas sekarang,” ujarnya di rumah duka.
Ini menunjukkan bahwa proyek flyover bukan rencana mendadak, melainkan sudah dirancang sebelumnya. Hanya saja, momentum kecelakaan membuat urgensinya semakin kuat.
Instruksi Presiden Percepat Pembangunan
Percepatan pembangunan flyover Bekasi juga mendapat dorongan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, saat menjenguk korban di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Presiden menekankan pentingnya pembenahan sistem operasional kereta api, khususnya di wilayah dengan lintasan padat seperti Bekasi.
Menurut Dedi, perhatian dari pemerintah pusat menjadi sinyal kuat bahwa persoalan perlintasan tidak bisa lagi ditunda.
“Dengan kebijakan kemarin Pak Presiden dibangun flyover, kita berucap terima kasih banyak. Berarti ada perhatian, terutama menyelesaikan pintu lintasan di berbagai tempat,” kata Dedi.
Baca Juga: Intip Progres Kampung Nelayan Merah Putih 2026, Nelayan Bisa Untung?
Artinya, pembangunan ini bukan hanya proyek infrastruktur biasa, tetapi bagian dari upaya sistemik mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang.
Lintasan Liar dan Minim Pengawasan
Selain soal infrastruktur, Dedi juga menyoroti persoalan lama yang masih terjadi: banyaknya perlintasan yang muncul akibat perkembangan permukiman. Seiring waktu, akses jalan bertambah tanpa diiringi pengamanan yang memadai.
“Ada yang dijaga oleh orang, ada yang tidak dijaga. Dan itu nyebar banget di seluruh daerah,” ungkapnya.
Kondisi ini bisa berdampak serius terhadap keselamatan. Perlintasan tanpa pengawasan meningkatkan potensi kecelakaan, terutama di kawasan padat dengan mobilitas tinggi seperti Bekasi.
Tegas Soal Ormas di Pintu Perlintasan
Dalam pernyataannya, Dedi juga menyinggung keberadaan organisasi masyarakat (ormas) yang menguasai pintu perlintasan. Ia menegaskan praktik tersebut tidak boleh terjadi di Jawa Barat.
“Tindak saja Ormasnya, kita tindak. Karena bagi saya tidak boleh di Jawa Barat ada orang menguasai sesuatu yang bukan haknya,” tegasnya.
Langkah ini menandakan pendekatan yang lebih tegas dalam penataan perlintasan. Pengelolaan lintasan, menurutnya, harus kembali ke sistem resmi demi keselamatan publik.
Anggaran Sudah Disiapkan
Pembangunan flyover Bekasi disebut akan segera masuk tahap teknis. Dedi menyebut adanya dukungan anggaran hingga Rp4 triliun dari pemerintah pusat untuk berbagai wilayah, termasuk Bekasi.
Selain itu, dokumen perencanaan seperti Detail Engineering Design (DED) juga sudah tersedia dan kini dalam tahap penyempurnaan. “Kalau alokasi sekarang ada, ya tinggal pelaksanaan teknis, tinggal lelang,” ujarnya.
Ini menunjukkan bahwa proyek sudah mendekati tahap implementasi. Artinya, percepatan pembangunan bukan lagi wacana, melainkan tinggal eksekusi.
Harapan ke Depan
Kunjungan Dedi ke rumah duka juga menjadi momen refleksi. Ia menyampaikan bahwa korban yang dimakamkan di Bekasi sejauh ini baru dua orang yang teridentifikasi, sementara lainnya dibawa ke daerah asal masing-masing.
“Yang baru teridentifikasi, dimakamkan di Bekasi baru dua. Kemarin guru, sekarang di sini,” katanya. Di balik itu, ia berharap tragedi ini menjadi yang terakhir.
“Semoga peristiwa ini adalah peristiwa terakhir. Karena seluruh kelalaian kita dalam melakukan penataan infrastruktur lalu lintas darat, laut, dan udara harus segera dibenahi,” ucapnya.
Harapan tersebut menegaskan bahwa pembenahan tidak hanya pada satu titik, tetapi menyangkut sistem transportasi secara keseluruhan.
0 Komentar