Transisi Energi Digenjot, Prabowo Dorong PLTS 10 GW Ganti Listrik Diesel
Presiden Prabowo dorong percepatan PLTS hingga 17 GW untuk gantikan listrik diesel. Target energi bersih kini jadi prioritas.
Langkah percepatan energi bersih kembali ditegaskan pemerintah. Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar untuk mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis diesel.
Dorongan ini muncul di tengah kebutuhan mendesak untuk menghadirkan energi yang lebih efisien dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang masih bergantung pada pembangkit konvensional.
Rencana dan Target Besar PLTS 10 GW Dalam Waktu Dekat
Pemerintah saat ini tengah mengevaluasi sejumlah program strategis, termasuk proyek pengembangan PLTS berkapasitas besar. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyebut bahwa program ini menjadi perhatian langsung Presiden.
Evaluasi tersebut dilakukan dalam rapat terbatas yang melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga terkait dan para ahli. Fokus utamanya adalah memastikan implementasi berjalan cepat dan tepat sasaran.
Program ini tidak hanya sekadar proyek energi, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi besar menuju sistem kelistrikan yang lebih modern.
Dalam rapat tersebut, Presiden secara khusus menyoroti penggunaan pembangkit listrik berbasis diesel yang masih cukup dominan di sejumlah wilayah. Ia meminta agar penggantian dengan energi surya dipercepat.
Baca Juga: Tinjau Control Room, Direktur Distribusi PLN Bongkar Sistem Listrik Sumut
Hasil koordinasi antara berbagai pihak, termasuk PLN dan Danantara, menargetkan pengurangan kapasitas diesel hingga 10 gigawatt dalam waktu dekat.
Langkah ini dinilai penting karena pembangkit diesel umumnya memiliki biaya operasional tinggi serta dampak lingkungan yang lebih besar dibandingkan energi terbarukan.
Potensi PLTS Capai 17 Gigawatt
Selain pengurangan diesel, pemerintah juga menyiapkan penambahan kapasitas energi terbarukan melalui PLTS. Berdasarkan perhitungan bersama lintas kementerian dan akademisi, potensi instalasi PLTS bisa mencapai 17 gigawatt.
Angka ini mencakup kombinasi penggantian pembangkit lama dan pembangunan kapasitas baru sekitar 7 gigawatt. Perhitungan tersebut melibatkan berbagai pihak seperti Kementerian ESDM, PLN, dan para ahli dari perguruan tinggi.
Jika terealisasi, kapasitas ini akan menjadi salah satu langkah signifikan dalam mempercepat transisi energi di Indonesia.
Percepatan pembangunan PLTS berpotensi membawa dampak luas, baik dari sisi efisiensi energi maupun lingkungan. Penggunaan energi surya diharapkan dapat menekan biaya produksi listrik dalam jangka panjang.
Bagi masyarakat, terutama di daerah yang sebelumnya bergantung pada diesel, perubahan ini dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik. Selain itu, penggunaan energi bersih juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi.
Transformasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menciptakan sistem energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga: Sumur Gas Raksasa Kaltim Terungkap, Bahlil: Produksi Mulai 2028!
PLN Jadi Pelaksana Utama Program
Terkait implementasi di lapangan, seluruh proyek PLTS akan berada di bawah koordinasi PLN sebagai pelaksana utama. Penentuan lokasi pembangunan juga akan dilakukan oleh PLN sesuai kebutuhan sistem kelistrikan nasional.
Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan bahwa pembangunan berjalan terintegrasi dan sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Dorongan percepatan PLTS hingga 17 gigawatt menandai langkah serius pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada energi berbasis diesel. Dengan koordinasi lintas sektor dan target yang jelas, program ini menjadi salah satu kunci dalam transisi energi nasional.
Ke depan, realisasi di lapangan akan menjadi penentu seberapa cepat Indonesia dapat beralih menuju energi yang lebih bersih dan efisien.
0 Komentar