Globalindopos.com, Jakarta – Peta politik menuju Pilpres 2029 mulai memanas meski masih terpaut tiga tahun lagi. Hasil survei terbaru dari Muda Bicara periode Januari–Maret 2026 mengungkapkan pergeseran signifikan dalam preferensi politik generasi muda (Gen Z dan Milenial).

Nama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono atau yag akrab disapa AHY, muncul sebagai pemuncak klasemen dalam bursa calon wakil presiden (cawapres) pilihan anak muda.

Dilansir dari data yang dirilis akun instagram Totalpolitikcom, AHY mengantongi elektabilitas sebesar 17,8%. Posisi ini ditempel ketat oleh Wakil Presiden petahana Gibran Rakabuming Raka dengan 17,1% dan Dedi Mulyadi (KDM) di angka 16,8%.

Tipisnya margin di tiga besar ini menandakan belum adanya sosok hegemonik yang benar-benar mengunci suara pemilih muda di awal tahun 2026 ini.

Kebangkitan Kuda Hitam dan Figur Alternatif

Hasil pemantauan kami di lapangan menunjukkan bahwa pemilih muda kini tidak lagi hanya terpaku pada tokoh-tokoh di pusat kekuasaan Jakarta. Munculnya Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, di posisi keempat dengan 14% elektabilitas adalah anomali yang menarik. Sherly berhasil melampaui nama-nama besar seperti Anies Baswedan dan Purbaya Yudi Sadewa yang saat ini masih tertahan di bawah angka 10%.

Menariknya, survei ini juga menangkap fenomena "politik konten". Figur publik yang kerap bersuara di media sosial mulai masuk dalam radar politik formal. Najwa Shihab mencatatkan angka 2,7%, disusul oleh kreator konten Ferry Irwandi dengan 2,5%. Meski secara angka belum signifikan untuk tiket pencalonan, kehadiran mereka menunjukkan bahwa anak muda mencari representasi dari luar lingkaran partai politik konvensional.

Baca Juga: Kisah Sherly Tjoanda, 'Kecelakaan' Politik yang Jadi Sejarah Malut

Analisis Pakar: Gen Z Semakin Kritis

Dihubungi secara terpisah, Pemerhati dan Pakar Komunikasi Politik, Dr. H. Ami Kamiludin, menyampaikan bahwa munculnya data ini menegaskan adanya perubahan perilaku pemilih. Anak muda, terutama Gen Z, tidak lagi pasif.

"Data ini menegaskan bahwa anak muda semakin melek politik. Mereka semakin kritis dan memperhatikan isu-isu pemerintah secara mendalam. Mereka bukan lagi objek politik, melainkan subjek yang menilai efektivitas kebijakan melalui layar ponsel mereka setiap hari," ujar Dr. Ami Kamiludin.

Ke depan, dinamika ini diprediksi akan terus cair. Eksposur media, konsistensi kebijakan, dan kemampuan para tokoh ini dalam merespons isu-isu krusial seperti lapangan kerja dan ekonomi hijau akan menjadi penentu apakah angka-angka awal di 2026 ini akan bertahan hingga pendaftaran resmi di KPU nanti.

Kata Kunci Anak Muda

Jika kita membedah lebih dalam, dominasi AHY dalam survei ini bukan sekadar faktor popularitas lama. Jabatan Menko Infrastruktur memberikan panggung visual yang sangat disukai algoritma media sosial.

Anak muda melihat hasil kerja nyata yang bisa "difoto", seperti pembangunan jalan, jembatan, dan konektivitas digital. Ini menunjukkan transisi pemilih muda dari sekadar menyukai retorika ke arah apresiasi performa kementerian.

Kondisi ini bisa berdampak pada strategi kandidat lain. Gibran Rakabuming, sebagai petahana, kini menghadapi tantangan berupa ekspektasi tinggi. Sementara itu, melesatnya Sherly Tjoanda memberikan sinyal kuat bahwa narasi pembangunan daerah luar Jawa mulai mendapat tempat di hati pemilih nasional.

Baca Juga: Menuju 2029: Digitalisasi Politik, Suara Anak Muda, dan Bahaya Manipulasi AI

Artinya, siapa pun yang ingin memenangkan suara 2029 harus mampu membuktikan keberhasilan mereka di tingkat lokal atau sektoral sebelum maju ke gelanggang nasional.