Globalindopos.com, Jakarta – Kabar terbaru datang dari pertamina. PT Pertamina (Persero) secara resmi mengumumkan pembaruan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk sejumlah wilayah di Indonesia yang mulai berlaku efektif pada Senin, 4 Mei 2026. Penyesuaian ini terjadi pada BBM nonsubsidi, di mana jenis Pertamax Turbo dan deretan solar mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan dibandingkan harga pada bulan sebelumnya.

Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi dari Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Regulasi tersebut merupakan perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 yang mengatur tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum, baik bensin maupun solar, yang disalurkan melalui SPBU.

Lonjakan Signifikan Solar dan Pertamax Turbo

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan bermesin diesel modern atau mobil berperforma tinggi, bersiaplah merogoh kocek lebih dalam. Di wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo (RON 98) kini menyentuh angka Rp19.900 per liter. Jika dibandingkan dengan harga April yang berada di level Rp19.400, terdapat kenaikan sebesar Rp500 per liter.

Baca Juga: Bahlil: Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Ini Fokus Utama Pemerintah

Namun, kenaikan paling mencolok justru terjadi pada lini Pertamina Dex Series. Berdasarkan data yang dilansir dari laman resmi Pertamina, harga Dexlite (CN 51) melonjak tajam menjadi Rp26.000 per liter dari harga sebelumnya Rp23.600. Tak ketinggalan, Pertamina Dex (CN 53) juga mengalami eskalasi harga menjadi Rp27.900 per liter, naik signifikan dari angka Rp23.900 pada periode April.

Kenaikan drastis pada jenis solar nonsubsidi ini menunjukkan adanya tekanan pada harga komoditas global yang mulai terdistribusi ke harga eceran domestik. Bagi sektor logistik atau pengguna pribadi kendaraan diesel, selisih harga ini tentu akan memberikan dampak langsung pada biaya operasional harian.

Pertamax dan BBM Subsidi Masih "Dingin"

Di tengah tren kenaikan harga minyak dunia, ada sedikit kabar baik bagi pengguna BBM harian. Pertamina memutuskan untuk tetap menahan harga Pertamax (RON 92) di level Rp12.300 per liter. Begitu pula dengan Pertamax Green (RON 95) yang tetap dipatok pada angka Rp12.900 per liter.

Harga kedua jenis BBM tersebut tercatat belum mengalami perubahan sejak bulan Maret 2026, atau tepatnya sebelum ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memanas. Keputusan untuk mempertahankan harga Pertamax ini tampaknya menjadi strategi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Dalam Sepekan Harga Minyak Dunia Melonjak 16%, Dipengaruhi AS-Iran

Artinya, pemerintah dan Pertamina masih berusaha melakukan proteksi pada jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi oleh kelas menengah guna mencegah efek domino inflasi yang terlalu tajam.

Nasib Pertalite dan Biosolar

Bagaimana dengan BBM subsidi? Pemerintah memastikan tidak ada perubahan harga untuk jenis BBM penugasan. Pertalite tetap dibanderol Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap di angka Rp6.800 per liter. Kondisi ini memberikan napas lega bagi masyarakat luas, meskipun beban kompensasi energi diprediksi akan semakin berat bagi kas negara jika tren harga minyak dunia terus merangkak naik.

Secara keseluruhan, pembaruan harga BBM per 4 Mei ini menggambarkan dinamika pasar energi yang sangat fluktuatif. Fokus penyesuaian pada sektor nonsubsidi kasta atas (Dex Series dan Turbo) mengindikasikan bahwa Pertamina sedang melakukan penyesuaian margin yang lebih realistis mengikuti harga pasar dunia, sembari tetap menjaga stabilitas harga pada produk-produk yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat banyak.