Globalindopos.com, Bandung - Fenomena bed rotting kembali ramai diperbincangkan di media sosial pada Minggu, 3 Mei 2026, seiring kondisi cuaca yag terjadi di berbagai wilayah Indonesia yang cenderung mendung dan hujan sejak pagi. Situasi ini membuat banyak orang memilih untuk tetap berada di tempat tidur lebih lama dari biasanya.

Tren bed rotting yang viral di TikTok dan X (Twitter) ini menggambarkan kebiasaan seseorang menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian di atas kasur tanpa melakukan aktivitas produktif. Meski terlihat nyaman dan dianggap sebagai bentuk istirahat ekstrem, sejumlah pihak mulai menyoroti dampak jangka panjang dari kebiasaan ini.

Fenomena ini pun memunculkan pertanyaan penting: apakah bed rotting benar-benar bentuk self-care, atau justru kebiasaan yang perlahan bisa merugikan kesehatan mental?

Apa Itu Bed Rotting?

Istilah bed rotting berarti “membusuk di atas kasur”. Dalam praktiknya, istilah ini merujuk pada kondisi dimana ketika seseorang memilih untuk tetap berada di tempat tidur dalam waktu lama tanpa melakukan aktivitas berarti.

Aktivitas yang dilakukan biasanya sangat minimal, seperti menonton film, scrolling media sosial, makan di tempat tidur, hingga sekadar berbaring tanpa tujuan yang jelas. Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai cara “melarikan diri” dari penatnya rutinitas harian.

Namun, meskipun terdengar seperti bentuk relaksasi, pola ini jika dilakukan terlalu sering dapat mengubah cara tubuh dan pikiran merespons istirahat.

Kembalinya tren bed rotting tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial di media digital saat ini. Banyak pengguna media sosial mengaitkan kebiasaan ini dengan kebutuhan untuk “recharge” setelah aktivitas padat, terutama di kalangan anak muda yang aktif bekerja atau belajar.

Situasi cuaca mendung dan hujan seperti yang terjadi hari ini juga memperkuat dorongan untuk tetap berdiam diri di rumah. Ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan turut berperan dalam memperkuat tren tersebut di media sosial.

Namun di sisi lain, viralnya bed rotting juga dipicu oleh romantisasi gaya hidup santai berlebihan yang sering muncul di platform seperti TikTok.

Sisi Gelap Bed Rotting

Meski terlihat menyenangkan, bed rotting ternyata menyimpan sejumlah risiko yang mulai diperhatikan oleh para ahli kesehatan mental.

Salah satu dampaknya adalah meningkatnya rasa malas dan cemas ketika harus kembali beraktivitas. Ketika tubuh terlalu lama dalam kondisi pasif, transisi menuju aktivitas produktif menjadi terasa lebih berat.

Ini menunjukkan bahwa kebiasaan diam terlalu lama justru bisa membuat seseorang merasa lebih lelah secara mental saat harus kembali ke rutinitas.

Selain itu, terlalu lama berada di tempat tidur juga dapat mengganggu pola tidur. Otak menjadi bingung membedakan fungsi kasur sebagai tempat istirahat dan aktivitas lainnya. Akibatnya, kualitas tidur malam bisa menurun meskipun seseorang sudah beristirahat sepanjang hari.

Dampak terhadap Kesehatan Mental dan Pola Tidur

Dalam jangka panjang, bed rotting berpotensi memengaruhi kesehatan mental jika dilakukan secara berulang tanpa kontrol. Isolasi diri yang berlebihan di kamar, minimnya paparan cahaya matahari, serta kurangnya interaksi sosial dapat membuat suasana hati memburuk.

Kondisi ini bisa berkembang menjadi rasa hampa, kurang motivasi, hingga gejala yang berkaitan dengan penurunan mood. Artinya, kebiasaan yang awalnya dianggap sebagai cara istirahat justru bisa berbalik menjadi beban psikologis.

Dari sisi tidur, ketidakteraturan aktivitas di kasur juga membuat ritme tubuh menjadi tidak stabil. Ini yang kemudian memicu kesulitan tidur di malam hari meskipun tubuh sudah “rebahan” sepanjang siang.

Cara “Mager” yang Lebih Sehat

Istirahat tetap penting, namun ada cara yang lebih seimbang agar tubuh dan pikiran tetap sehat. Jika cuaca membuat kamu malas keluar rumah, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan tanpa harus terjebak dalam bed rotting.

Pertama, cobalah berpindah tempat dari kasur ke sofa atau ruang tamu. Perubahan kecil ini bisa membantu otak membedakan waktu istirahat dan waktu santai.

Kedua, membuka jendela kamar agar udara segar masuk dapat membantu menyegarkan suasana dan mengurangi rasa pengap.

Ketiga, lakukan peregangan ringan selama beberapa menit untuk melancarkan sirkulasi darah. Aktivitas sederhana ini bisa membantu tubuh tetap aktif meskipun sedang santai.

Terakhir, kurangi penggunaan media sosial secara berlebihan. Menggantinya dengan membaca buku atau aktivitas reflektif ringan bisa memberikan efek relaksasi yang lebih sehat.

Baca Juga: Long Weekend Mei 2026: Tren Staycation & Wisata Alam Naik

Fenomena bed rotting menunjukkan bagaimana budaya digital dapat memengaruhi cara orang beristirahat dan memaknai “me time”. Meski memberikan kenyamanan sesaat, kebiasaan ini tetap perlu dibatasi agar tidak berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas.

Pada akhirnya, istirahat memang penting, tetapi keseimbangan tetap menjadi kunci utama. Jangan sampai niat untuk mengisi ulang energi justru membuat tubuh dan pikiran semakin lelah di kemudian hari.