Dinas Kesehatan Kabupaten Garut mencatat sebanyak 72 kasus demam berdarah dengue (DBD) terjadi selama Januari 2026, dengan dua orang di antaranya meninggal dunia. Data ini dihimpun sejak awal tahun dan menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski kewaspadaan tetap diperlukan.

Penurunan jumlah kasus ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena pada Januari 2025, angka DBD di Garut sempat melonjak hingga ratusan kasus. Meski kondisi tahun ini lebih terkendali, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa potensi penularan masih ada, terutama di tengah kondisi cuaca yang mendukung perkembangbiakan nyamuk.

Baca Juga: Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Pemerintah Siapkan Deteksi

Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Yodi Sirojudin, menjelaskan bahwa sepanjang Januari 2026 tercatat 72 warga positif DBD. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2025 yang mencapai 525 kasus. Bahkan, tren penurunan juga terlihat jika dibandingkan dengan Januari 2024.

Menurut Yodi, penurunan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Upaya pencegahan yang dilakukan warga mulai menunjukkan hasil, meskipun masih terdapat kasus yang perlu ditangani secara serius.

“Kesadaran masyarakat dalam kebersihan lingkungan sudah mulai bergerak. Berbagai langkah dilakukan untuk menekan munculnya jentik nyamuk, terutama melalui pemberantasan sarang nyamuk,” ujarnya pada Minggu, 1 Februari 2026.

Langkah yang dimaksud mencakup penerapan pola 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.

Upaya Pencegahan dan Penanganan Kasus

Selain peran aktif masyarakat, Dinas Kesehatan bersama petugas puskesmas serta unsur RT, RW, desa, hingga kecamatan terus melakukan edukasi lingkungan secara berkelanjutan. Edukasi ini difokuskan pada pentingnya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar sebagai langkah utama mencegah DBD.

Di wilayah yang dinilai rawan atau endemik, petugas kesehatan juga melakukan pengasapan atau fogging. Pemeriksaan jentik nyamuk di rumah warga menjadi bagian dari upaya pemantauan rutin untuk memastikan potensi penularan dapat ditekan sejak dini.

Yodi menegaskan bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, termasuk fogging dan pemeriksaan jentik, tidak bisa dilakukan secara sporadis. Menurutnya, upaya tersebut harus berlangsung terus-menerus agar hasilnya optimal.

Baca Juga: Pola Makan Sahur dan Berbuka Agar Puasa Tetap Kuat

“PSN melalui pengasapan di lokasi endemik dan pemeriksaan jentik di rumah warga harus dilakukan secara berkelanjutan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa intensitas hujan yang tinggi pada awal Januari dapat mempercepat siklus perkembangbiakan nyamuk pembawa virus dengue. Kondisi ini membuat potensi peningkatan kasus tetap ada, meskipun angka saat ini menunjukkan penurunan.

Seluruh kasus DBD yang terdeteksi, lanjut Yodi, langsung mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan. Namun, dua kasus kematian terjadi karena pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi yang sudah berat dan tidak dapat tertolong.

Tetap Perlu Kewaspadaan

Meski jumlah kasus DBD di Garut mengalami penurunan signifikan, Dinas Kesehatan menilai situasi ini belum sepenuhnya aman. Partisipasi masyarakat dan konsistensi upaya pencegahan menjadi kunci untuk menjaga agar angka kasus tidak kembali meningkat.

Berita Rekomendasi: Polri Petakan Lokasi Riza Chalid Usai Red Notice

Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kasus dan menggerakkan berbagai elemen masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih. Langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko DBD, terutama selama musim hujan yang masih berlangsung.