Dulu, masyarakat mengandalkan media arus utama untuk mendapatkan informasi. Televisi, radio, hingga portal berita besar menjadi rujukan utama karena dianggap kredibel dan melalui proses verifikasi yang ketat. Namun kini, pola itu berubah drastis. Media sosial justru menjadi sumber pertama bagi banyak orang untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Pengamat sekaligus penggiat media sosial Dr. H. Ami Kamiludin, menyebut fenomena ini sebagai perubahan cara konsumsi informasi, bukan semata-mata penurunan kualitas literasi.

ia menjelaskan bahwa kecepatan menjadi faktor utama. “Hari ini orang tidak mau menunggu. Informasi yang muncul lebih dulu akan dikonsumsi lebih dulu, soal benar atau tidak itu seringkali belakangan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat kini hidup dalam ritme informasi yang serba cepat. Hal ini membuat media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X menjadi sangat dominan dalam membentuk persepsi publik.

Literasi Berubah, Tapi Tidak Selalu Siap

Disinggung soal literasi, Dr. Ami menilai bahwa yang terjadi bukan sekadar penurunan, melainkan pergeseran bentuk. Jika dulu masyarakat terbiasa membaca panjang dan membandingkan sumber, kini mereka lebih akrab dengan konten singkat dan visual.

“Ketika ditanya apakah ini berarti literasi menurun, saya tidak sepenuhnya setuju. Literasi itu berubah. Tapi memang, kemampuan untuk memverifikasi informasi belum ikut berkembang secepat perubahan itu,” jelas Dr. Ami.

Ia melihat ada ketimpangan antara derasnya arus informasi dengan kemampuan publik dalam menyaringnya. Akibatnya, tidak sedikit informasi yang sebenarnya belum valid justru dipercaya begitu saja.

Ketika Realitas Dibentuk Algoritma

Salah satu hal yang paling disorot adalah peran algoritma media sosial. Menurut Dr. Ami, sistem ini secara tidak langsung membentuk cara pandang masyarakat.

“Orang cenderung melihat apa yang ingin mereka lihat. Algoritma memperkuat itu. Jadi apa yang sering muncul di layar, lama-lama dianggap sebagai kebenaran,” kata Dr. Ami.

Disinggung lebih jauh, ia menyebut kondisi ini sebagai “ruang gema”, di mana pengguna hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya. Dampaknya, ruang diskusi menjadi semakin sempit, sementara perbedaan pendapat mudah berubah menjadi konflik.

Hoaks, Propaganda, dan Opini yang Mudah Digiring

Ketika ditanya soal bahaya dari kondisi ini, Dr. Ami tidak menampik bahwa risiko terbesar adalah manipulasi opini publik.

“Informasi yang emosional itu lebih cepat menyebar. Orang lebih mudah bereaksi terhadap sesuatu yang memicu marah atau takut dibandingkan data yang kering,” ujarnya.

Menurutnya, situasi ini membuka peluang bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat propaganda. Tidak hanya dalam konteks politik, tetapi juga ekonomi dan kepentingan lainnya.

Dr. Ami menambahkan, kesalahan informasi yang terus berulang bisa berdampak pada kualitas pengambilan keputusan masyarakat. “Kalau dasarnya salah, keputusan yang diambil juga bisa salah. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.

Krisis Kepercayaan yang Diam-Diam Tumbuh

Selain hoaks, hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah menurunnya tingkat kepercayaan publik. Menurut Dr. Ami, masyarakat kini tidak hanya meragukan informasi di media sosial, tetapi juga mulai skeptis terhadap media kredibel dan institusi resmi.

“Disinggung soal trust, ini memang jadi persoalan besar. Ketika semua dianggap tidak bisa dipercaya, masyarakat kehilangan pegangan,” jelasnya.

Ia menilai kondisi ini bisa berdampak panjang jika tidak ditangani dengan baik, terutama dalam menjaga stabilitas sosial dan kualitas demokrasi.

Peran Publik Figur: Tidak Bisa Lagi Cara Lama

Di tengah situasi tersebut, peran publik figur dan institusi menjadi semakin penting. Menjawab pertanyaan mengenai strategi komunikasi, Dr. Ami menekankan bahwa pendekatan lama sudah tidak relevan.

“Sekarang tidak cukup hanya klarifikasi. Harus cepat, jelas, dan bisa dipahami. Bahasa juga harus lebih dekat dengan masyarakat,” ujar Dr. Ami.

Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran langsung di media sosial. Menurutnya, masyarakat lebih percaya pada komunikasi yang terasa personal dibandingkan pernyataan formal yang kaku.

Pola Buzzer di Media Sosial Perlu atau Justru Masalah?

Ketika ditanya soal peran buzzer, Dr. Ami tidak menampik bahwa dalam situasi tertentu, upaya memperluas jangkauan informasi memang dibutuhkan. Dalam ekosistem media sosial yang bergerak cepat, pesan yang benar pun tetap perlu didorong agar bisa sampai ke publik secara luas.

Namun, menurutnya, pendekatan tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ia menekankan bahwa cara penyampaian menjadi kunci utama agar tujuan komunikasi tidak berbalik arah.

“Menurut saya, bukan soal perlu atau tidak. Penyebaran informasi itu penting, bahkan bisa saja dibutuhkan. Tapi harus dilakukan dengan cara yang transparan dan tidak terkesan dipaksakan,” ujarnya.

Disinggung lebih lanjut, Dr. Ami melihat bahwa pola penyebaran informasi saat ini tidak selalu datang dari pihak yang terorganisir. Ia menilai, dalam banyak kasus, dorongan opini justru muncul secara spontan dari individu atau kelompok yang merasa memiliki kepentingan terhadap suatu isu.

“Sekarang ini, tidak selalu harus terstruktur. Ketika ada kepentingan atau kedekatan emosional, orang bisa dengan sendirinya menjadi penyampai pesan. Istilahnya, buzzer bisa muncul secara alami,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini membuat batas antara informasi organik dan yang didorong menjadi semakin tipis. Dalam kondisi seperti itu, yang menjadi penentu bukan lagi siapa yang paling banyak bersuara, tetapi siapa yang paling bisa dipercaya.

“Ketika ditanya apa yang membuat sebuah pesan lebih diterima, jawabannya tetap pada kredibilitas dan cara penyampaian. Publik akan lebih mempertimbangkan informasi yang disampaikan secara wajar, tidak berlebihan, dan punya dasar yang jelas,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan bahwa dalam menghadapi arus informasi yang semakin dinamis, pendekatan yang dibangun sebaiknya tidak hanya bertumpu pada penguatan suara, tetapi juga pada kualitas pesan dan kejelasan sumber.

“Pada akhirnya, yang bertahan itu bukan sekadar ramai atau tidaknya sebuah isu, tapi seberapa kuat kepercayaan publik terhadap informasi tersebut,” tutupnya.

Antara Cepat dan Tepat

Di akhir perbincangan, Dr. H. Ami Kamiludin menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal banyaknya informasi, tetapi bagaimana masyarakat memprosesnya.

“Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal cara kita memahami informasi. Kalau tidak ada keseimbangan antara cepat dan tepat, dampaknya bisa ke mana-mana,” pungkasnya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berpikir kritis dan memverifikasi tetap menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan.