Literasi AI di Indonesia Rendah, Gen Z Jadi Pengguna Terbesar
Literasi AI di Indonesia masih rendah meski penggunaan meningkat. Gen Z menjadi pengguna terbesar, terutama untuk pendidikan dan kebutuhan belajar.
Globalindopos.com, Jakarta - Literasi AI di Indonesia masih tergolong rendah meski penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) terus meningkat. Berdasarkan berbagai survei yang dikutip dari Nusantara AI Institute, indeks literasi AI Indonesia berada di angka sekitar 49,96 dan masuk kategori rendah (poor), sementara hanya 32 persen masyarakat yang dinilai memiliki literasi digital terkait AI secara memadai.
Di sisi lain, penggunaan AI menunjukkan tren peningkatan. Sebanyak 27,34 persen masyarakat Indonesia tercatat aktif menggunakan AI, naik dari 24,73 persen pada tahun sebelumnya. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya jarak antara tingkat pemanfaatan teknologi AI dengan kemampuan masyarakat dalam memahami, menggunakan, serta mengevaluasi hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.
Literasi AI di Indonesia dan Tingginya Penggunaan untuk Belajar
Salah satu penggunaan AI yang cukup menonjol di Indonesia adalah untuk kebutuhan pendidikan dan pembelajaran. Data Statista Consumer Insights mencatat sebanyak 61 persen responden di Indonesia menggunakan AI untuk keperluan pendidikan dan belajar.
Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi teratas dibandingkan negara lain dalam penggunaan AI untuk tujuan pendidikan berdasarkan data yang disebutkan dalam sumber tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi salah satu alat yang digunakan masyarakat untuk mendukung proses belajar. Namun, tingginya penggunaan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa pengguna telah memiliki pemahaman yang memadai mengenai cara kerja, keterbatasan, maupun risiko dari teknologi AI.
Baca Juga: Ancaman "Agentic AI": Ketika Robot Mulai Meretas Sistem Secara Mandiri
Data dari RPUBS juga menunjukkan dominasi generasi muda dalam penggunaan AI. Gen Z menjadi kelompok pengguna terbesar dengan proporsi 43,7 persen. Angka tersebut berada di atas kelompok Milenial sebesar 22,3 persen, Gen X 12,8 persen, dan Boomer 8,9 persen.
Bagi Gen Z, penggunaan AI paling banyak diarahkan untuk belajar atau pendidikan dengan persentase 49,89 persen. Berikutnya adalah hiburan sebesar 25,89 persen, produktivitas 12,21 persen, dan penggunaan sebagai virtual assistant sebesar 11,58 persen.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pendidikan menjadi salah satu alasan utama Gen Z memanfaatkan teknologi AI. Pada saat yang sama, pola penggunaan juga mencakup kebutuhan hiburan, produktivitas, dan bantuan aktivitas sehari-hari.
ChatGPT Jadi Platform AI yang Banyak Digunakan
Adopsi berbagai platform chatbot AI juga menunjukkan tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap teknologi tersebut.
Berdasarkan data RPUBS yang diberikan, ChatGPT menjadi platform dengan tingkat adopsi sebesar 85 persen. Selanjutnya Meta AI berada di angka 72 persen dan Google Gemini sebesar 65 persen.
Platform lainnya yang tercatat digunakan masyarakat antara lain Microsoft Copilot sebesar 26 persen, DeepSeek 25 persen, serta Perplexity AI sebesar 22 persen.
Data tersebut menggambarkan bahwa penggunaan AI di Indonesia tidak hanya terkonsentrasi pada satu layanan. Masyarakat telah menggunakan berbagai platform dengan kemampuan dan fungsi yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing.
Namun, persoalan literasi tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan tersebut. Ketika penggunaan teknologi meningkat, pengguna juga membutuhkan kemampuan untuk memahami informasi yang diberikan oleh sistem AI, termasuk menilai apakah suatu keluaran dapat dipercaya atau masih perlu diperiksa kembali.
Baca Juga: Benarkah AI Bisa Jadi Teroris Siber? Cek Fakta, Mitos, dan Risikonya
Literasi AI Tidak Hanya soal Bisa Menggunakan Teknologi
Literasi AI memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
Salah satu tantangannya berkaitan dengan kesenjangan keterampilan. Literasi AI memiliki hubungan erat dengan literasi data karena model AI bergantung pada kualitas serta proses pengolahan data.
Karena itu, kemampuan menggunakan aplikasi AI perlu disertai pemahaman mengenai bagaimana informasi diproses dan bagaimana hasil akhirnya perlu diperlakukan. Pengguna tidak cukup hanya mengetahui cara memberikan perintah atau prompt, tetapi juga perlu memahami keterbatasan dari keluaran yang diberikan sistem.
Literasi AI juga mencakup beberapa tingkatan kemampuan. Mulai dari memahami konsep dasar AI, memiliki keterampilan teknis dalam menggunakan aplikasi, hingga mampu mengevaluasi hasil atau output secara kritis.
Kemampuan mengevaluasi hasil menjadi penting karena keluaran AI tidak selalu dapat diterima begitu saja. Pengguna membutuhkan kemampuan untuk menilai informasi secara kritis agar dapat mengurangi risiko menerima informasi yang keliru atau terjebak dalam disinformasi.
Baca Juga: Membaca Tren Buzzer SMM Terbaru Dunia Digital Marketing di 2026
Dengan tingkat penggunaan AI yang terus berkembang dan Gen Z menjadi kelompok pengguna terbesar, kebutuhan terhadap pemahaman AI menjadi semakin relevan. Data yang tersedia menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah cukup aktif memanfaatkan berbagai layanan AI, khususnya untuk pendidikan dan pembelajaran.
Pada saat yang sama, angka indeks literasi AI yang masih berada pada kategori rendah menunjukkan adanya tantangan dalam memastikan penggunaan teknologi tersebut diikuti kemampuan memahami dan mengevaluasi hasilnya. Perkembangan penggunaan AI dan peningkatan literasi menjadi dua hal yang berjalan beriringan dalam menghadapi semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan di Indonesia.
0 Komentar