Di usia yang ke-385 tahun, Kabupaten Bandung tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga menghadapi realitas tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Di balik sejarah besar sebagai kawasan penting di Cekungan Bandung, masih ada persoalan mendasar yang menjadi pekerjaan rumah.

Momentum hari jadi ini dimanfaatkan sebagai refleksi sekaligus titik evaluasi. Pemerintah daerah menyoroti sejumlah isu krusial, mulai dari banjir, sampah, hingga kesiapan sumber daya manusia menghadapi masa depan.

Jejak Sejarah Panjang dan Peran Strategis

Kabupaten Bandung dikenal sebagai wilayah dengan sejarah kuat yang menjadi cikal bakal lahirnya sejumlah daerah otonom. Kawasan Cekungan Bandung melahirkan wilayah seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, hingga Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Bupati Dadang Supriatna, perjalanan panjang ini menjadi bukti pentingnya peran Kabupaten Bandung dalam perkembangan wilayah di Jawa Barat.

Namun, ia menegaskan bahwa sejarah besar tersebut harus diiringi dengan upaya perbaikan berkelanjutan agar tetap relevan menghadapi tantangan zaman.

Banjir dan Sampah Masih Jadi PR Nyata

Salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah banjir. Meski program Citarum Harum telah memberikan dampak positif dengan menurunkan luas genangan dari sekitar 4.000 hektare menjadi 1.500 hektare, masalah ini belum sepenuhnya terselesaikan.

Faktor seperti sedimentasi dan kurangnya pemeliharaan menjadi penyebab banjir kembali terjadi. Kondisi ini diperparah oleh tingginya curah hujan di beberapa periode.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Gaskeun PSEL, Sampah Jabar Jadi Listrik

Perubahan memang terasa, terutama dari sisi durasi banjir yang kini lebih cepat surut dibanding sebelumnya. Namun dalam kondisi tertentu, genangan masih bisa berlangsung lebih lama.

Selain banjir, persoalan sampah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Volume sampah yang terus meningkat menuntut solusi yang tidak hanya bergantung pada pemerintah.

Dadang menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tanpa partisipasi aktif warga, upaya penanganan tidak akan berjalan optimal.

Sejumlah kajian dan terobosan pun tengah disiapkan untuk menghadirkan sistem pengelolaan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

SDM dan Ekonomi Jadi Fokus Masa Depan

Di luar isu lingkungan, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi prioritas. Hal ini dinilai penting untuk menyongsong visi Indonesia Emas.

Program seperti Makan Bergizi Gratis disebut sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan kompeten. Selain itu, pendekatan ekonomi sirkular terus didorong untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Data menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung mengalami peningkatan sebesar 1,34 persen pada periode 2024–2025, menjadi sinyal positif bagi pembangunan ke depan.

Perayaan Sederhana dengan Pesan Lingkungan

Berbeda dari perayaan besar pada umumnya, peringatan hari jadi ke-385 Kabupaten Bandung digelar secara sederhana tanpa karnaval.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Bupati mengimbau agar karangan bunga diganti dengan bibit pohon. Langkah ini dinilai lebih bermanfaat sekaligus mengurangi potensi penambahan sampah.

Ia juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan kritik, selama bertujuan membangun daerah menjadi lebih baik.

Baca Juga: Jawa Barat Dinilai Layak Jadi Contoh Pengendalian Sisa Pangan

Usia 385 tahun menjadi momen penting bagi Kabupaten Bandung untuk melihat ke belakang sekaligus menatap ke depan. Di balik sejarah panjangnya, tantangan seperti banjir, sampah, dan peningkatan SDM masih menjadi fokus utama.

Dengan komitmen perbaikan dan keterlibatan masyarakat, harapan untuk mewujudkan Kabupaten Bandung yang lebih maju dan berkelanjutan tetap terbuka lebar.