Banjir Dayeuhkolot Belum Surut, Akses Bandung Lumpuh
Banjir Dayeuhkolot akibat luapan Citarum belum surut, jalan utama Bandung lumpuh, arus dialihkan dan kemacetan tak terhindarkan.
Air belum juga surut, dan dampaknya makin terasa. Ruas vital penghubung Bandung masih tergenang, memaksa ribuan pengendara putar arah setiap hari. Situasi ini bukan sekadar banjir biasa mobilitas warga ikut lumpuh.
Banjir Dayeuhkolot kembali jadi sorotan setelah genangan dari luapan Sungai Citarum masih merendam Jalan Raya Dayeuhkolot, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung hingga Senin (13/4/2026). Jalan ini merupakan jalur penting yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Dikutip dari tribunjabar.id, kondisi ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Jalan Utama Tak Bisa Dilalui Normal
Genangan air dengan ketinggian 30 hingga 60 sentimeter membuat kondisi jalan jauh dari kata normal. Kendaraan roda dua praktis tidak bisa melintas, sementara kendaraan roda empat masih dipaksakan lewat dengan risiko terbatas.
Situasi ini membuat arus lalu lintas terganggu secara signifikan. Jalan yang biasanya padat kini berubah menjadi titik rawan kemacetan dan perlambatan ekstrem. Aktivitas distribusi barang hingga perjalanan harian warga ikut tersendat.
Luapan Citarum dan Sistem Drainase
Banjir Dayeuhkolot bukan kejadian baru, namun kali ini dampaknya kembali terasa luas. Luapan Sungai Citarum menjadi faktor utama yang menyebabkan air meluber ke jalan raya.
Selain itu, kondisi drainase yang tidak optimal serta curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir memperparah situasi. Air yang seharusnya cepat surut justru tertahan dan menggenangi area vital.
Sejak Jumat (10/4), pihak kepolisian sudah mengantisipasi dengan rekayasa lalu lintas. Namun, volume kendaraan yang tinggi membuat solusi ini belum sepenuhnya efektif.
Macet Panjang dan Aktivitas Terganggu
Dampak paling terasa adalah kemacetan panjang di sejumlah titik. Antrean kendaraan terlihat mengular dari kawasan Bojongsoang menuju Baleendah hingga Dayeuhkolot.
Tak hanya itu, warga juga harus menghadapi pilihan sulit: menunggu atau menerobos banjir. Banyak di antaranya tetap nekat melintasi genangan demi bekerja atau memenuhi kebutuhan harian.
Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya jalur tersebut bagi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat sekitar.
Kondisi Terkini: Rekayasa Lalu Lintas Masih Berlaku
Kasatlantas Polresta Bandung, Kompol Ega Prayuda, menyebutkan bahwa pengalihan arus masih terus diberlakukan untuk mengurangi dampak banjir Dayeuhkolot.
Pengendara dari arah Banjaran menuju Kota Bandung diarahkan melalui Jalan Rencong ke Rancamanyar, lalu keluar di kawasan Cibaduyut atau Kopo.
Alternatif lain juga disiapkan, seperti rute Cisurung–Sayuran–Rancamanyar untuk arah Banjaran, serta jalur Bojongsoang–Simpang Siliwangi bagi yang menuju Ciparay.
Meski begitu, kepadatan tetap tak terhindarkan. Volume kendaraan yang tinggi membuat jalur alternatif ikut mengalami kemacetan.
Warga Diminta Cari Rute Aman
Pengendara diimbau untuk menghindari jalur terdampak banjir Dayeuhkolot dan memanfaatkan rute alternatif yang telah disiapkan. Selain itu, warga juga diminta untuk selalu memperhatikan kondisi kendaraan sebelum menerobos genangan.
Bagi pengguna roda dua, disarankan untuk tidak memaksakan diri melintas demi menghindari risiko kecelakaan atau kerusakan kendaraan.
Banjir Dayeuhkolot kerap terjadi saat debit Sungai Citarum meningkat, menjadikannya salah satu titik rawan banjir tahunan di Bandung Selatan.
Banjir Dayeuhkolot kembali menunjukkan betapa rentannya jalur vital terhadap luapan air. Meski rekayasa lalu lintas sudah diterapkan, dampaknya masih luas dan terasa langsung oleh masyarakat.
Jika kondisi cuaca belum membaik, bukan tidak mungkin genangan akan bertahan lebih lama. Update terbaru soal surutnya air dan kondisi lalu lintas masih dinantikan.
Baca Juga: Hujan Ekstrem Bikin Cimahi Banjir, Warga Sampai Terisolasi
0 Komentar