Dr. H. Ami Kamiludin Ungkap Trump Gagal di Konflik Iran–AS–Israel, Publik Indonesia Berubah
Dr. H. Ami Kamiludin mengungkap penyebab kegagalan Trump dalam konflik Iran–AS–Israel serta dampaknya terhadap sikap masyarakat Indonesia.
Kegagalan Donald Trump dalam konflik perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak di kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu perubahan signifikan dalam cara pandang masyarakat Indonesia terhadap geopolitik global.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki sensitivitas tinggi terhadap konflik timur tengah yang melibatkan Israel. Dampaknya, setiap eskalasi konflik dengan Iran cepat membentuk opini publik baik secara emosional, ideologis, maupun rasional.
Menurut Pengamat dan penggiat media sosial Dr. H. Ami Kamiludin, kegagalan Trump tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat serangkaian kesalahan strategi yang saling berkaitan.
Akar Kegagalan Strategi Trump dalam Konflik Iran–AS–Israel
Dr. H. Ami Kamiludin menyebut, kegagalan Donald Trump dalam konflik Iran–AS–Israel bukan sebagai penengah yang tidak berhasil, melainkan sebagai aktor yang menjalankan strategi yang tidak efektif dan kontradiktif.
Trump dinilai memainkan dua pendekatan sekaligus tekanan militer dan sanksi ekonomi di satu sisi, serta membuka ruang diplomasi di sisi lain. Namun, kedua strategi ini tidak berjalan selaras dan justru memperdalam ketidakpercayaan dari Iran. Ketika tekanan dan diplomasi dijalankan bersamaan tanpa kepercayaan, hasilnya bukan kompromi, tapi kebuntuan, ujar Dr. Ami.
Di sisi lain, kebijakan Amerika Serikat juga dianggap terlalu dipengaruhi oleh kepentingan Israel, khususnya di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, sehingga ruang negosiasi semakin terbatas. Selama AS tidak independen dari kepentingan Israel, Iran tidak akan percaya pada mediasi Washington, katanya.
Baca Juga: Medsos Jadi Senjata Baru, Pakar Soroti Perang Narasi Iran vs AS & Israel
Masalah lain terlihat dari lemahnya kendali terhadap sekutu. Dalam beberapa situasi, Israel tetap melakukan serangan meskipun ada dorongan untuk menahan diri. Kalau sekutu saja tidak bisa dikendalikan, bagaimana strategi konflik bisa berjalan efektif? lanjutnya.
Strategi tekanan maksimum melalui sanksi dan blokade juga tidak sepenuhnya berhasil. Iran justru mampu beradaptasi di tengah tekanan tersebut. Tekanan maksimum tanpa kontrol penuh justru memberi ruang adaptasi bagi Iran, jelas Dr. Ami.
Selain itu, krisis kredibilitas politik turut memperburuk situasi. Narasi yang tidak selalu sejalan dengan fakta lapangan membuat kepercayaan semakin menurun. Dalam konflik seperti ini, kredibilitas adalah mata uang utama dan itu yang justru terkikis, ujarnya.
Kebijakan memperpanjang gencatan senjata tanpa solusi substantif juga dinilai kontraproduktif karena memberi waktu bagi Iran untuk melakukan konsolidasi.Gencatan senjata tanpa solusi hanya jeda, bukan akhir konflik, tegas Dr. Ami.
Lebih jauh, Trump juga dianggap keliru membaca posisi tawar Iran yang memiliki kekuatan strategis, termasuk jalur energi global dan pengaruh regional. Masalah utama bukan kekuatan militer, tapi salah membaca daya tahan politik Iran, kata Dr. Ami.
Perubahan Opini Publik yang Signifikan
Kegagalan strategi Donald Trump dalam konflik Iran–AS–Israel tidak berhenti di level global, tetapi juga berdampak kuat terhadap cara pandang masyarakat Indonesia.
Menurut Dr. H. Ami Kamiludin, salah satu dampak paling terlihat adalah meningkatnya skeptisisme terhadap Amerika Serikat. Publik mulai melihat AS bukan lagi sebagai mediator netral dalam konflik internasional. Publik Indonesia melihat Amerika bukan lagi ‘polisi dunia’, tetapi aktor dengan kepentingan politik, ujar Dr. Ami.
Di saat yang sama, simpati terhadap Iran dan Palestina juga mengalami peningkatan. Konflik ini kerap dikaitkan dengan isu Palestina, sehingga Iran dipersepsikan sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat. Dalam persepsi publik Indonesia, Iran adalah simbol resistensi global, katanya.
Dinamika ini semakin diperkuat oleh peran media sosial. Perdebatan di platform seperti Twitter dan TikTok kian tajam dan membentuk dua kubu besar, yakni kelompok yang melihat konflik dari sisi rasional geopolitik dan kelompok yang lebih ideologis. Media sosial tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga mempercepat polarisasi, jelasnya.
Baca Juga: Media Sosial dan Kebijakan Pemerintah: Isu Negatif Bisa Ubah Arah
Selain itu, kegagalan diplomasi Barat turut memicu meningkatnya sentimen anti-Barat di masyarakat. Hal ini terlihat dari munculnya seruan boikot, kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, hingga penguatan narasi kemandirian dunia Islam. Diplomasi yang gagal sering diterjemahkan sebagai kegagalan moral, ujar Dr. Ami.
Tidak hanya dari sisi ideologis, sebagian masyarakat juga mulai menyadari dampak ekonomi dari konflik tersebut. Kekhawatiran muncul terkait potensi kenaikan harga minyak dunia, dampaknya terhadap harga BBM, hingga risiko inflasi pada kebutuhan pokok. Konflik Timur Tengah selalu punya efek domino, termasuk ke Indonesia, katanya.
Di sisi lain, kepercayaan terhadap lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mulai menurun. Banyak pihak menilai lembaga global tersebut belum mampu memberikan solusi konkret terhadap konflik yang berlarut. Ketika konflik berlarut, publik mulai kehilangan kepercayaan pada sistem global, ujarnya.
Meski demikian, terdapat pula dampak positif yang muncul, terutama di kalangan generasi muda. Isu ini mendorong meningkatnya minat terhadap geopolitik dan hubungan internasional. Anak muda kini lebih aware terhadap geopolitik, ini perkembangan yang menarik, tambah Dr. Ami.
Dampak Lebih Besar pada Persepsi daripada Militer
Kegagalan pendekatan Trump tidak hanya memperpanjang konflik, tetapi juga mengubah cara masyarakat Indonesia memandang dunia.
Perubahan ini mencakup meningkatnya sikap kritis, emosional, hingga skeptis terhadap kekuatan global.
Kegagalan meredam konflik ini tidak hanya berdampak geopolitik, tetapi juga membentuk opini publik Indonesia menjadi lebih kritis, emosional, dan terpolarisasi, tutup Dr. Ami.
0 Komentar